Monolak GLOBALISASI, IMPREALISME, dan KAPITALISME.

Sunday, August 3, 2008


Come To Lake Toba

When the sun is coming up. Water sparkle like a diamond light. I hear a sound of wave. People walking to field. When the sun goes to west. And misty bright red color magnificent. Come ot lake toba you will be happy there. Get your self satisfied marvel of the world Jet sky, water sircle, canoe, speed boat, Even mikro lie you can here Fish grilled beside the lake, wild jungle we've monkeys and tigers. Come to lake toba You will enjoy with us, Get your self satisfy Marvels of the world demikian Tongam Sirait mengekspresikan kegelisahannya melihat Danau Toba yang kian sepi tanpa pengunjung. Dimana, lewat lirik lagu yang dinyanyikannya dalam album Nomensen tersebut Tongam mencoba memanggil seluruh wisatawan untuk datang ke Danau Toba dan melihat keindahan panorama alam tersebut.

Kekawatiran akan terhapusnya Danau Toba dari peta wisata dunia menjadi alasan yang kuat dalam lagu tersebut. Sebab, kian sepinya wisatawan yang datang ke Sumatera Utara (Sumut) adalah bukti bahwa kwalitas pariwisata mengalami kemerosotan yang cukup tinggi. Padahal, jika melihat berbagai aspek-aspek yang ada di Sumut semestinyalah provinsi yang konon disebut bagian dari Sumatera Timur menjadi salah satu tujuan utama wisatawan. Selain terkenal lewat keberagaman suku, agama, dan budaya yang memiliki nilai jual yang tinggi provinsi ini memiliki beragam wisata alam yang salah satunya Danau Toba.

Ada sesuatu yang baru ketik kaki melangkah dan menapaki jejak di kota Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut. Sebab, kota wisata yang dulunya sebagai salah satu simbol kekayaan bumi Sumut ini sempat sepi terlebih beberapa tahun terakhir. Kerumunan pengunjung yang datang ke Parapat seakan membawa kita menjiarahi kenangan yang telah dikubur oleh keterpurukan pariwisata Sumut. Terlebih setelah terjadinya krisis moneter, dan ketakutan wisatawan untuk datang ke Indonesia yang disebabkan oleh berbagai factor baik keamanan serta politik yang sedang berbenah menuju pembaharuan demokrasi yang tergambar dalam reformasi 1998.

Menapaki jejak di kawasan wisata yang menggabungkan 6 kabupaten di Sumut serasa membawa kita pada sebuah bangsa yang pernah menyatu dalam satu kesatuan yang di sebut batak. Danau Toba yang merupakan asset pariwisata kabupaten Simalungun, Toba Samosir (Tobasa), Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan (Humbahas), Samosir, Dairi, dan Tanah Karo ini pada dasarnya memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sangat tinggi. Sebab selain keindahan alam, daerah yang mengelilinginya merupakan pusat peradapan masyarakat dengan budaya 4 sub etnis batak yaitu batak Simalungun, Toba, Karo, dan Pakpak.

Danau dengan luas kurang lebih 110.000 hektar ini cenderung diketahui oleh wisatwan hanya dapat dinikmati dari daerah Simalungun saja, yaitu Parapat. Yang semestinya, pemandangan yang ada di alam ini dapat juga dilihat dari keseluruhan daerah yang mengelilinginya. Sebab selain memilki keindahan alam danau dengan air tawar sejuk, daerah-daerah disekeliling danau ini juga masih memiliki peninggal-peninggalan kuno. Seperti yang terdapat di Pulau Samosir tepatnya di Tomok.

Pulau Samosir, yang merupakan salah satu pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba diyakini sebagai tempat asal mula suku batak yang dititipkan Tuhan di Dolok Pusuk Buhit. Sehingga budaya batak yang masih sangat kental dengan peradapan-peradapan leluhur satu persatu masih dapat kita temui. Seperti makam batu, patung yang digunakan untuk meminta hujan, serta boneka kayu yang dapat menari yang disebut dengan nama sigale-gale.

Perjalan menuju tempat ini tidak begitu sulit, dengan menggunakan kapal penyeberangan danau dapat ditempuh sekitar 60 menit dari kota parapet dengan biaya penyembrangan yang relative sangat murah yaitu Rp 4.000 rupiah. Sementara untuk menuju kota parapet dari ibu kota provinsi Sumut, yaitu Medan memakan waktu sekitar 4 jam dengan menggunakan jalur darat. Selama diperjalanan kita dapat melihat pepohonan rindang yang berjejer mulai dari kecamatan Aek Nauli hingga Parapat, yang membuat suasana perjalan semakin nyaman dengan kesejukan udara pegunungan.

Namun, objek wisata yang dulu popular pada tahun 90 an ini sempat mengalami kemerosotan. Selain itu, salah satu kegiatan tahun yang dulunya dilaksanakan sebagai di Danau Toba selama 11 tahun vakum, yaitu Pesta Danau Toba (PDT). Bahakan sebutan PDT hampir punah dari telinga para wisatawan domestic dan mancanegara. Dimana acara yang dulunya digelar setiap tahun ini diharapka menaikkan citra pariwisata Danau Toba.

Semangat untuk membangun kembali citra Danau Toba yang terkandung dalam PDT 2008 merupakan sebuah upaya untuk mempromosikan Danau Toba, baik untuk wisatawan local ataupun mancanegara. Hingga masuknya provinsi Sumut dalam 10 daerah destinasi unggulan dalam program Visit Indonesia Year 2008 pada akhir 2007 yang lalu menjadi salah satu pintu yang memotifasi pembangunan pariwisata di Sumut. Dimana dengan penetapan tersebut pihak pemerintah daerah berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan kembali potensi pariwisata. Lewat 2 agenda penting yang diprogramkan dilaksanakan di Sumut yaitu Pesta Danau Toba (PDT) yang dipusatkan di Parapat, kabupaten Simalungun serta pesta buah yang akan dilaksanakan di Brastagih Tanah Karo objek wisata yang menjadi kebanggan di Sumut di harapkan bangkit kembali.

Kerumunan pengunjung dalam acara PDT tersebut seakan mengingatkan warga sekitar pada saat kejayaan pariwisata Danau Toba. Meskipun pelaksanaan PDT masih tergolong kaku dan belum terarah lewat serangkaian acara yang dilaksanakan selama berlangsunganya acara tersebut jauh dari apa yang diharapkan pengunjung namun visi yang terkandung tetap tertuju pada pengembangan pariwisata. Selain itu pembenahan infrastruktus seperti jalan yang merupakan salah satu akses masuknya wisatwan juga terlihat di sepanjang jalan menuju parapet sudah diperbaiki tahap demi tahap terlebih jalan lintas sumatera. Hingga terbersit seuntai kata di hati para warga yang di sana, agar kiranya Parapat, serta kawasan Danau Toba lainnya kembali dipenuhi para wisatwan serta mengibarkan bendera kejayaan di pariwisata dunia. (baringin lumban gaol/seputar indonesia)

1 comment:

Singal Sihombing said...

Semoga PEMDA Sumatera Utara, dan kabupaten terkait, melakukan langkah jitu untuk menarik wisatawan dan betah tinggal di sini.
Misalnya, pelayanan publik, transportasi, akomodasi hotel.
Sosialisasi kepada masyarakat, cenderamata berbandrol (tidak berlama-lama menawar).
Melestarikan hutan, dan lingkungan yang asri.
Melarang truk balok kayu diseluruh wilayah Sumatera Utara,
dll, dll.